Wednesday, 19 March 2014

SEBUAH CERITA UNTUK KETENANGAN



Pagi dimana aku masih bersyukur dengan kesempatan panjangnya nafas ini. Rasa-rasa tidak pantas hidup lagi dan seakan ingin merelaka semua yang akan dan sedang berlangsung. Pagi begitu bodoh, aku membuang semua keresahan dengan mencari keresahan yang mematikan otak sehat ini. Permainan tua yang sekarang menjadi wacana dalam perang intelektual bodoh dalam sejarah. Menghabiskan waktu sia-sia dan pagi yang indah menjadi tema dalam blog pribadiku.
Tepat 40 menit sebelum jam 8, saya baru akan mempersiapkan keberangkatan ke akukampus sambil mengingat-ingat “hari ini kuliah apa dan dimana?”. Inilah kebodohan yang hampir setiap hari aku lakukan yang kemudian menjerumuskan menjadi kelompok manusia terbuang.

Sepanjang perjalanan berteman dengan orang satu atap tapi tidak tahu namanya. Senyum cerahnya membuat aura positif pada raut wajah yang suram ini seakan tidak ingin mengecewakannya dengan menanyakan “nama antum siapa ya?” atau “tinggal di pesma kan?”. Entah kenapa aku termasuk orang yang bodoh dalam mengingan nama orang tapi selalu bertemu orang yang ingat dengan nama saya. Kemungkinan besar ini dosa yang tidak sengaja karena kecewa.
Perjalanan ke halte bikun terasa sangat singkat dan pendek apalagi bagi saya menyenangkan menertawakan kelemahan dari pendidikan dan profesi seseorang. Namun tak berapa lama ketemu lagi dengan Youri yang kebetulan berpas-pasan di halte yang sama. Sikap ceria dan aura positif itu pun saya tularkan dengan membawa pembincangan ringan. Bercakap layaknya teman lama yang baru bertemu, ada aja yang  menjadi percakapan baik itu tentang Islam, diskusi, atau liqo.
Fisip pun sudah di depan mata dan waktu menunjukan “anda telat ilham”. Meskipun begitu tidaklah saya sadari bahwa keterlambatan ini akan membuat kurang nilai saya didepan orang lain. Tidaklah saya hidup untuk orang lain tapi untuk saya sendiri dan segala penilaian orang positif bagi saya karena diri saya sendiri adalah negative.
Memasuki ruang  kuliah yang hamper tidak ada aura kehidupan ini membuat saya agak minder dengan banyaknya mahasiswa fisip yang berasal dari jurusan politik. Jurusan yang menjadi cucuran keringat dan do’a saya namun Allah berkata lain. Susah memang untuk mendapatkan jurusan itu untuk ilmu saya yang sangat dangkat di masal lalu itu. Saat ini saya sejajar dengan mereka walau sebagai pelajar tapi tidakkah jurusan saya juga bagus dan penting? Tidak penting lah.
Singkat sekali kuliah politik ini karena saya yakin semua data yang disodorkan berasal dari data mentah berbagai sumber yang belum diolah dan ketika menglah membutuhkan peras keringat dalam waktu yang lama. Melihat “Indonesia sebagai negara pemurah dan baik hati” atau justru dibilang bodoh ini menjadi topik hangat dalam pembincangan di dalam kelas. Pak Andrinof tidak lagi adalah pakar politik merasa resah juga melihat perkembangan yang tidak maju pada Indonesia. Kenapa? Karena negara di pimpin oleh orang-orang bodoh dan tamak.
Nilai harga manusia sudah dapat dihitung oleh materi itu membuat aku muak. Manusia telah merasa dirinya memiliki segala sehingga segala sesuatu bersifat materi bisa mengubah cara pandang seseorang. Aku sadar materi itu sangat sulit bahkan suatu hal yang mewah luar biasa dalam benak ini namun tidak ada artinya jika semua itu bukan berasal dari usaha kita sendiri yang diambil dari kemampuan kita tanpa mengorbankan sumber daya Indonesia yang seharusnya milik umum bukan kepemilikan negara, kelompok, bahkan perorangan.
Tertawa-tertawa ruang diskusi menguras semagatku dan solusi atas semua itu hanya satu yaitu “revolusi”. Aku mencintai dan atas nama cinta aku menginginkan semua kembali pada pangkuan sang Khalik dan pangkuan satu-satunya aku bisa pulang dengan damai. Kau tau? Betapa sakitnya diri ini tak berarti bagiMu apalagi dipandang rendah oleh semua orang. BANGUNKAN AKU DARI TIDUR PANJANGKU, SADARKAN AKU DARI MIMPI TENTANGMU, ……
Sumpah serapah selalu aku sampaikan pada kebisingan dan kekotoran yang mememuakan dan membuat aku diam dalam sesaat. Aroma menggoda yang tidak lepas dari arahmu membuat diri ini bersalah dalam fitrahnya. Bumi yang yang semakin panas membakar hidupku yang kau tau udara, pemandangan, kesombongan, kekompakan, kekayaan, dan banyak lagi yang membuat dirinya mendapat kebisingan baik di fisip maupun di fib semua sama.
Akhirnya ketenangan itu datang di perpus pusat disebuah pojokan gelap dimana aku tidak melihat apa-apa lagi dan aku menjadi orang yang asik dengan dunianya.

“taukah KAMU apa yang aku pinta? Tuhan hanya kau yang bisa menolongku”

AKU, KELAS, DAN PELAJARAN



Setelah lelah membaca buku biografi ibnu Khaldun terasa ngantuk pada jiwa yang sepi ini. Tanpa aku sadari aku tertidur pulas di pagi yang biasanya aku tidak mau tidur. Bangun-bangun udah jam setengah delapan, ini pagi paling sial yang pernah aku temui karena aku pasti telat memasuki kuliah pagi ini. Ternyata kenyataan sangat berbeda dengan dugaan ku karena pada pukul 8.30 wib sesampai di kelas ternyata kelas masih belum di mulai dan bebearapa bangku kelihatan masih kosong. Paling sialnya aku tidak lihat batang hidung dosen, kenapa aku harus takut telat dengan keadaan jam karet gini? Andaikan dia tau bagaimana ngebutnya jalanku ke kampus yang jaraknya lebih dari 300 meter dari halte bikun.

Kelas terasa rebut dengan berbagai aktivitas sekitar yang sebenarnya tidak terlalu penting. Aku memilih duduk di belakang kali ini biar dapat teman ngobrol dan tidak bosan dikelas yang mempelajari ilmu demokrasi ini. Akhirnya si dosen datang dengan wajah tanpa bersalah dia memulai pelajaran “karekteristik demokrasi point ke 3 dan 4”. Gampang saja dalam birokrasi adalah ciptaan manusia yang sifatnya fleksible selagi landasannya tidak berasal dari manusia maka suatu sistem tidak akan pernah bisa keluar dari jalur karena akan terbentur dengan sanksi.
Hari ini untuk pertama kalinya aku komentar mengenai ketimpangan yang dijelaskan si dosen dimana dia tidak mengambil fariabel yang sama dalam membandingkan antara sistem demokrasi dan komunis. Setidaknya aku berharap dia tau kalau ada aku di dalam kelas itu yang terkadang itu konsep eksistensi yang ingin selalu aku perlihatkan. Setidaknya kata-kata levi benar juga dan aku tidak menyalahkannya ngak gabung dalam halaqah.
Sesekali aku menyadari dikelas ada astrid. Agak berbeda dengan anak sejarah lain dia lebih kelihatan lebih bunglong dari pada aku karena sering kali keberadaannya di fakultas tidak terlalu sering. Cewek bertudung dan selalu pakai jaket itu kelihatan seperti biasanya dengan tanpa tanggapan atas pelajaran dan hilang begitu kelas bubar. Suatu ketika aku pernah tanya dan katanya dia ikut organisasi luar artinya dia lebih aktif di luar kampus dari pada dalam kampus sendiri. Salah satu yang membuat jengkel adalah dia selalu menggunakan headset sehingga ketika berpas-pasan aku menegur dia tidak akan menoleh kecuali aku melambaikan tangan didepan matanya.