Belum lama ini telah kita dengar dampak dari reformasi Burma atau Myammar. Terang saja yang terjadi malah lebih buruk. Ternyata perubahan Junta militer ke Demokrasi tidak membawa prubahan yang lebih baik malah menjadi pemberantasan etnis rohingya. Hal ini berawal dari dibebaskannya tawanan politik yang mempelopori aksi ini.
Wirathu adalah salah satu tahanan politik yang ikut dibebaskan saat reformasi Myammar ini. Wirathu adalah seorang yang telah berhenti sekolah sejak umur 14 tahun dan melanjutkannya ke Biara Mandalay. Dia masuk penjara karena aksinya pada tahun 2003 yang memprovokasi dan tindak kekerasan terhadap warga muslim kemudian dipenjara selama 25 tahun. Saat ini selepas kebebasannya bukannya tobat tapi dia lebih gencar melancarkan aksinya, dengan bangganya dia menyebut dirinya sebagai Bin Ladennya Burma.
kelompok 969 adalah kelompok buatan Wirathu, bermakna 9 nama budha, 6 langkah budha, dan 9 jalan kebiksuan. secara formal lembaga ini berdiri dan menerangkan visinya untuk memberantas kaum muslim. aksinya lebih kejam dari sebelumnya yang hanya memboikot tapi sampai saat ini sampai memperkosa bahkan membunuh. terjadinya aksi itu tidak hanya oleh kelompok 969 tapi disertai dari angkatan militer serta polisi di myammar.
Begitu peliknya permasalahan di Myammar sehingga kaum minoritas ditindas dengan atas nama agama Budha. Wirathu hanya salah satu Contoh dari semua ini selain itu ada Khin Nyunt yang tidak kalah penting perannya pada tragedi kelabu juni 2012 yang terjadi di sebuah Bus. Peristiwa itu membunuh 10 ummat muslim dalam perjalanan di arakan.
Myammar telah melakukan kesalahan dalam reformasi juga menjadi negara pemicu perang dunia saat ini. Hal yang dilakukan Myammar saat ini sangat berpengaruh pada masa mendatang dimana Myammar telah mencoret tintah hitam dalam kedamaian duni. Tidak bisa dipungkiri demokrasi lah yang membuat segala ini. Demokrasi membuat sudut pandang kaum mayoritas lebih dari berkuasa dan menekan minoritas.
Negara myammar menjadi brutal dan sadis ketika diterapkannya demokrasi dengan biksu sebagai iconnya.
Rencananya tidak akan ada suara dari ummat muslim pada 2015 setelah pemerintahan Thein Sein yang menjabat sebagai presiden 2010-2015.
Saat ini kondisi pada masyarakat Myammar akibat dari propaganda 969 membuat setiap Buddist adalah raja dan tidak buddist adalah budak atau kalar. Mayarakat mayoritas sangatt membenci muslim bahkan membanci lambang-lambang muslim. Islam dalam fikiran masyarakat Buddist Myammar sama dengan propaganda dari Wirathu dengan mengklim muslim itu kelompok pemaksakan agama, membunuh hewan ternak dengan kejam, memperkosa, dan penculik. Wirathu menuturkan dalam sebuah majalah Time bahwa 90 persen muslim di Myammar adalah radikal.